Himpunan Mahasiswa Ahlussunah wal Jama’ah (HIMA ASWAJA) didirikan pada tanggal 1 Muharram
1434 H bertepatan dengan 25 Oktober 2012 di kampus UIN
Sunan Gunung Djati
Bandung. Hima Aswaja di bangun dengan
tujuan untuk mempersatukan gerak fikir mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati
Bandung kearah wasathiyah (pertengahan). Menuju persatuan tanpa disertai rasa ego
dengan mengklaim diri paling benar. Sehingga menimbulkan kekacauan berupa
pertikaian yang tidak kunjung usai antar ormas Islam, yang pada hakikatnya
masih berada pada lingkup persaudaraan sesama Muslim dan beraqidah Ahlussunnah
wal Jama’ah.
Tokoh pendiri Hima Aswaja dari berbagai tokoh
ormas, di antaranya Prof. Dr. Syukriyadi
Sambas, M.Si (Tokoh NU); Prof. Dr. Maman Abdurrahman, M.A (Tokoh Persis);
dan Dr. Izuddin Musthafa, M.A (Tokoh Muhammadiyah). Mereka
semua berada di bawah pimpinan Prof. Dr. Juhaya S Praja, M.A selaku tokoh intelektual UIN Sunan Gunung
Djati Bandung yang berpengaruh dan karismatik. Kemudian mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Prof. Dr. H. Deddy
Ismatullah, SH, M. Hum sebagai Rektor UIN SGD Bandung periode (2011-2015).
Ormas Islam di Indonesia memiliki nilai
historisitas yang tinggi, melihat keberpengaruhannya terhadap perkembangan
corak pemikiran dan pergerakan dakwah Islam di Indonesia. Beberapa diantaranya
Nahdlatul ‘Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS) dan lain
sebagainya. Konflik diantara ormas tersebut dapat dijumpai pada selang beberapa
waktu ke belakang.
Oleh
karena itu Hima Aswaja memiliki sebuah prinsip
“Kesatuan dalam Keragaman, Keragaman dalam Kesatuan, Islam
Rahmatan Lil ‘Alamin”. Prinsip ini, diambil dari situasi dan
kondisi mahasiswa saat itu, dimana masing-masing organisasi mengemukakan dan
menyatakan merakalah yang paling benar, dan memojokkan organisasi yang lainnya.
NU merasa lebih unggul dengan keilmuannya, Muhammadiyyah merasa lebih maju
dengan gaya pendidikannya, dan begitu pula dengan
PERSIS yang merasa lebih baik dalam aktivitas sosial dan muamalahnya, dan ini
terjadi bukan hanya di dunia luar, melainkan pula di dunia akademik.
Seperti di ranah kampus UIN Sunan Gunung Djati
Bandung beberapa organisasi kemahasiswaan memiliki peran vital dalam
masing-masing langkah pergerakan di bidang dakwah dan politik. Beberapa
diantaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). PMII sebagai wadah
intelektual kader muda NU berorientasi untuk menunjang gerak dan langkah ormas
NU. Berbeda dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) tidak dinaungi oleh ormas
Islam manapun, yang berarti HMI memang organisasi yang independen. Disusul oganisasi
kemahasiswaan islam lain seperti Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama (KMNU),
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
(IMM), dan Himpunan Mahasiswa Persatuan Umat Islam (Hima PUI).

4 Komentar
Ohh jadi gitu ceritanya wkwk
BalasHapusiya kakak
HapusAda nya HIMA ASWAJA DI UIN BANDUNG.. semoga menjadi wadah bagi para mahasiswa yang mempunyai latarbelakang ormasnya masing-masing untuk menyalurkan bakat dan intelektualnya . Smoga menjadi tempat untuk belajar dan bertukar fikiran sehingga kemudian bisa saling memahami dan memiliki sikap bijak dalam menanggapi persoalan masa kini...
BalasHapusSukses buat HIMA ASWAJA UIN BANDUNG...
Aminn terima kasih
Hapus