Oleh: Rani Nurani S.
KH.
Hasyim Asyari adalah ulama yang mendirikan organisasi ke 3 terbesar di
Indonesia dengan pemikiran islam kultural mengupayakan agar hidup orang islam
di Indonesia sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Pemikiran beliau memberikan
kehidupan yang baru bagi ormas-ormas islam yang lain, walaupun memang bukan
sebagai yang pertama didirikan tetapi organisasi ini merupakan organisasi nomer
1 di Indonesia dengan pengikut sekitar 100 juta lebih[1]
dan hampir mendekati sebagian dari seperempat penduduk Indonesia. Kejayaan ini
memberikan pengaruh di bidang sosial keagamaan, pendidikan dan pergerakan.
Kehidupan ormas islam di Indonesia
tidak luput dari tokoh-tokoh yang menjadi pionir pergerakan organisasi ini yang
khususnya yaitu KH Hasyim Asyari serta anak dan cucunya. Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari, bagian
belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari, lahir 10 April 1875 (24
Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng,
Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar
di Indonesia. Beliau merupakan putra ke
3 dari 11 bersaudara pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan
Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan
kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Hasyim adalah putra ketiga dari 11
bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin
Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai
Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua
orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada beliau.
Sejak anak-anak, bakat
kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman
sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah
membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.
Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam
ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di
Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan,
Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan
berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan,
Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
KH Hasyim Asyari
belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga
pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana
menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di
Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang,
Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini,
Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh
Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam
yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan
alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di
Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada
pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu,
melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan
Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim
bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan
di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia
berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun
dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi,
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh
Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad
As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim
mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia
mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama,
melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar.
Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat
itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda,
besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai
Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.
Selama hidupnya, KH Hasyim Asy’ari banyak menulis karya, di antaranya:
1. Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Berisi tentang tata cara menjalin silaturrahim, bahaya dan pentingnya interaksi sosial (1360 H).
2. Mukaddimah al-Qanun al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdhatul Ulama’ (1971 M).
3. Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah. Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzhab empat.
4. Mawaidz (Beberapa Nasihat). Berisi tentang fatwa dan peringatan bagi umat (1935).
5. Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’lyah Nahdhatul Ulama’. Berisi 40 hadis Nabi yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan Nahdhatul Ulama’.
6. Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin (Cahaya pada Rasul), ditulis tahun 1346 H.
7. At-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Peringatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemungkaran, tahun 1355 H.
8. Risalah Ahli Sunah Wal Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunah wa al-Bid’ah. Risalah Ahl Sunah Wal Jama’ah tentang hadis-hadis yang menjelaskan kematian, tanda-tanda hari kiamat, serta menjelaskan Sunah dan bid’ah.
9. Ziyadat Ta’liqat a’la Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al-Fasuruani. Catatan seputar nazam Syeikh Abdullah bin Yasin Pasuruan. Berisi polemik antara Kiai Hasyim dan Syeikh Abdullah bin Yasir.
10. Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah. Cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah. Berisi tata cara nikah secara syar’i; hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan.

0 Komentar