Sejarah Berdirinya Muhammadiyah


Oleh: Ocih Asirudin


18 November 2019 lalu  Muhammadiyah telah berhasil mendayung bahtera selama satu abad tujuh tahun. poros arus kehidupan yang begitu panjang untuk suatu entitas organisasi berbasis keislaman yang berupaya menyelesaikan problem Akademis-Scholarship-hermeneutis  yang menjadi batu sandung hubungan antar umat beragama di Indonesia. Jasa dan kontribusinya dalam menyikapi pluralitas di bumi pertiwi ini tida bisa dipandang sebelah mata. Salah satu responnya adalah dengan menyusun dan menerbitkan buku “ Tafsir Tematik Al-quran Tentang Hubungan Sosial Antar Umat Bragama” yang menyimpulkan bahwa perspektif pluralitas agama merupakan salah satu prinsip untuk melihat “Orang lain beragama” (the religion other) dan hubungan sosial antar umat beragama pada umumnya.

Organisme Muhammadiyah didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan di kampung Kauman, Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H). organisasi ini dikenal sebagai gerakan islam modern atau modernis (A.Syafii Maarif dkk:2010). Nama organisasi ini diambil dan nama muhammd SAW, yang memiliki makna konotasi sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Tujuan lahirnya organisasi ini adalah untuk mengembalikan segala bentuk deviasi yang terjadi di ruang lingkup masyarakat. Deviasi ini sering kali menyebabkan ajaran islam yang murni bercampur aduk dengan kebiasaan daerah tertentu dengan dalih adaptasi dan akulturasi.

Dalam merumuskan metodologi pemikiran islam, Muhammadiyah merujuk pada dua macam kebenaran, yairu kebenaran ikhbari; yang bersifat suci dan bukan objek kajian dalam pemikiran islam, dan kebenaran nadhary; dengan anggapan bahwa islam tidak berada dalam ruang hampa(Syarif Hidayatullah: 2010). Sudah cukup lama kesan bahwa pemikiran muslim terlalu rigid dan puritan. Perspektif puritan dalam memecahkan persoalan sosial-kemasyarakatan akan menyulitkan para anggotanya untuk dapat berpikir sistematis, elastis, dan pragmatis berbasis analisis keilmuan.

Di sinilah perlunya kerja keras untuk meletakan secara proporsional dimensi empirisme dalam bangunan epistemologi pemikiran keislaman, sehingga menjadi bagian yang utuh dengan dimensi spiritualitas dan moralitasnya. Sebab, jika umat islam tidak mau mengalami, memahami, dan bergumul dengan proses perubahan pola pikir yang di akibatkan perkembangan sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi serta munculnya struktur bangunan pemikiran keagamaan yang baru dalam merespons perubahan tersebut, maka akan beresultan pada semakin jauhnya antar “doktrin” dan “realitas” dan akan mudah terjebak pada bentuk respons sosial-intelektual yang bernuansa “Al-Ghazwul Al-fikr” yang lebih cenderung ideologis-politis.

Karakteristik yang khas dari organisasi ini adalah semangat membangun tatanan sosial dan pendidikan mayarakat yang lebih maju dan terdidik. serta menampilkan  ajaran islam bukan  hanya sekedar agama yang bersifat pribadi dan statis tetapi lebih dari itu juga memiliki fleksibilitas-dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.

Sebagai efek khatarsis dari organisasi ini, kini telah banyak berdiri perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan hampir diseluruh penjuru negeri.

Referensi :
Maarif, Syarif. 2010, Menggugat modernitas muhammadiyah, media utama. Jakarta selatan
Hidayatullah, Syarif. 2010, Muhammadiyah dan pluralitas agama di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Posting Komentar

0 Komentar