Oleh: Rizki Rahmatullah Hariri
Organisasi
kemasyarakatan Islam memang sangat mendukung untuk kemajuan pergerakan dalam
mengamalkan ajaran agama yang telah menjadi kewajiban bersama untuk diaati
dengan apapun konsekuensinya. Dengan adanya pergerakan semacam ini timbul
adanya perbedaan yang bisa membisa memecah belah dan hingga membuat keributan
nasional dalam rentang waktu yang cukup lama. Apapun diusahakan agar bisa
membuat organisasi terus tetap eksis dalam marwahnya.
Salah
satunya adalah organisasi PERSIS yang menjadi organisasi terbesar di Indonesia
karena ikut dalam memberikan aspirasi keagaamannya, PERSIS memberikan warna
untuk Indonesia agar bisa mencintai Al-Qur’an dan Hadits Ijtihad mereka untuk
menentukan jalan adalah memberikan suatu pemikiran Purifikasi kembali kepada ajaran agama Islam sesuai dengan firman
Allah SWT dan sabda Nabi Muhammad SAW.
Persis
berdiri 12 September 1923 Di Bandung oleh orang yang berminat dalam bidang
pendidikan dan aktivitas keagamaan yang dipelopori oleh Haji Zam-Zam dan haji
Muhammad Yunus. Kegiatan Persis meliputi kegiatan yang berlandaskan dengan
sesuai tuntutan Al-Qur’an dan Hadits untuk menangkal Takhayul, Bid’ah dan Khurafat (TBC). Organisasi Persis
memiliki beberapa wilayah yang tersebar di Indonesia seperti di Jawa Barat
sebagai pusat inti, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, Lampung, Bengkulu, Riau,
Jambi, Gorontalo, dan Sulawesi.[1]
Tokoh-tokoh
Persis antara lain A.Hassan, Haji Muhammad Yunus, H Zam-zam dan M Natsir.
Tokoh
Persis memiliki peran penting dalam kemerdekaan Indonesia adalah M Natsir ia
merupakan salah satu pejuang kemerdekaan dalam konstitusional dalam kembalinya
Kesatuan Negara Republik Indonesia untuk mempersatukan kedaulatan Indonesia
dari perpecahan kedaulatan karena Indonesia mempunyai 3 negara dalam satu
Negara. Perjuangan M Natsir dalam memberikan pernyataan mengenai konstitusional
memberikan beberapa pemikiran “mosi integral” yaitu peleburan 3 negara menjadi
NKRI karena pada saat itu Negara RIS berada di Yogyakarta dan Negara Indonesia
Timur ada di Sulawesi, Natsir tak menginginkan adanya perpecahan yang berujung
korban selanjutnya sehingga mengusulkan adanya Mosi Integral untuk menyatukan
Indonesia.
Jam’iyyah Persis berasaskan Islam
Jam’iyyah
Persis bertujuan terlaksananya syari’at Islam berlandaskan al-Quran dan
as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
Kelembagaan
- Pimpinan
Wilayah. Pimpinan Wilayah yang telah didirikan oleh jam’iyyah terdiri dari
16 PW.
- Pimpinan
Daerah. Dari 16 Pimpinan Wilayah membawahi jalur jam’iyyah sebanyak 62
Pimpinan Daerah.
- Pimpinan
Cabang. Dari 62 Pimpinan Daerah membawahi 358 Pimpinan Cabang
Lembaga Pendidikan
Persatuan
Islam yang gerakan utamanya adalah pendidikan telah menyiapkan lembaga-lembaga
pendidikan berbasis kepesantrenan sebanyak 230 pesantren.
Tokoh
- Muhammad
Isa Anshary, politikus dan pejuang Indonesia.
- Mohammad
Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia
- Ahmad
Hassan, teman debat Soekarno ketika di Bandung
- Haji
Zamzam, pendiri Persis
- H.
Eman Sar’an
- Achyar
Syuhada, ulama terkemuka Persis
- Mohammad
Yunus, ulama Persis
- K.H.
E. Abdurrahman, pemimpin Persis tahun 1962-1983
- K.H
A. Latif Muchtar
- K.H.
Shiddiq Amien, Mba Mantan Ketua Umum persis
- K.H.
Ikin Shadikin, ulama terkemuka Persis
- K.H. Usman
Sholehudin, Ketua Dewan Hisbath
- K.H.
Aceng Zakaria
- K.H.
M. Romli
- K.H.
Entang Muchtar ZA

0 Komentar